Rabu, 31 Desember 2008

Partai Pemenang Pemilu 2009

http://rabbanionline.blogspot.com/2008/12/article-partai-pemenang-pemilu-2009.html
Artikel Pilihan Adi Rabbani
Partai Pemenang Pemilu 2009
Berdasarkan "Site Rank" di Internet
By : Hendra hendratno

Beberapa metode pe-rank-ingan situs telah dilakukan oleh berbagai pihak. Diantaranya adalah Google (PageRank), Alexa, dan TrustRank (StandfordUniversity dan Yahoo!). Metode lain juga ada, khususnya semenjak kemunculanblog, misalnya sistem pe-rank-ingan di Technorati.


Pada umumnya per-rank-ingan mereka menerapkan algoritma yang berisi analisa terhadaplink-link terkait dengan situs yang bersangkutan. Ranking sebuah situsmenentukan popularitas situs tersebut, khususnya terkait dengankemunculannya di search-engine atau di situs-situs sejenis.Terkait dengan hal ini, saya tertarik untuk melihat urutan "partai pemenangPemilu Legislatif 2009 Republik Indonesia", berdasarkan ranking situs resmimereka masing-masing.


Sedangkan untuk tools yang saya gunakan untuk mengukur tingkat ranking situsadalah situs:site-rank.com Alasannya, menurut subjektivitas saya, situs ini cukup independen dalammengukur ranking situs, tidak memihak ke salah satu dari Google, Alexa,TrustRank, Technorati, dsb. Site-rank.com justru mencoba merangkum berbagaitools yang ada untuk menentukan ranking dari sebuah situs.


Beberapa tools yang saya lihat dirangkum oleh Site-rank.com antara lain : Google links,Google index, Google, catalog, Yahoo links, Yahoo index, Yahoo catalog,Yandex links, Yandex index, Yandex catalog, Alexa rank, Alltheweb links,Altavista links, Technorati links, DMOZ catalog, dsb. Nilai rangking sebuahsitus berdasarkan site-rank.com, memiliki range angka minimal 0 dan maksimal10.


Semakin besar angka ranking, semakin bagus situs yang bersangkutan Setelah saya coba memeriksa satu persatu ranking situs partai, ada beberapapartai yang tereliminasi. Mereka tereliminasi karena:

1. Situsnya tidak dikenali oleh site-rank.com. Ketika saya submit alamat situs partai yang bersangkutan, site-rank.com mengeluarkan errormessage: "Don't correct URL".

2. Partai yang bersangkutan tidak/belum memiliki situs resmi.


Partai-partai yang tereliminasi (sekaligus nomor urut mereka), adalah:

9. Partai Amanat Nasional* (PAN)

15. Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme*

19. Partai Penegak Demokrasi Indonesia* (PPDI)

22. Partai Pelopor*

24. Partai Persatuan Pembangunan* (PPP)

26. Partai Nasional Benteng Kerakyatan (PNBK) Indonesia

27. Partai Bulan Bintang* (PBB)

30. Partai Patriot

31. Partai Demokrat* (PD)

32. Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI)

33. Partai Indonesia Sejahtera (PIS)

34. Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU)

41. Partai Merdeka

42. Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI)


Nah, akhirnya tabel berikut ini adalah gambaran urutan partai pemenangpemilu 2009 (beserta nomor urut mereka) berdasarkan "Site-Rank":Ranking NamaPartaiURL Situs Resmi Site-Rank


18. Partai Keadilan Sejahtera* (PKS) http://www.pk-sejahtera.org 3,27250

21. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)http://www.hanura.com/ 2,89860

328. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan* (PDIP) http://www.pdi-perjuangan.or.id/ 1,87320

423. Partai Golongan Karya* (Golkar)http://www.golkar.or.id 1,87280

513. Partai Kebangkitan Bangsa* (PKB)http://www.dpp-pkb.org/ 1,76270

650. Partai Gerakan Indonesia Raya Gerindra)http://www.partaigerindra.or.id/ 1,70810

725. Partai Damai Sejahtera* (PDS)http://www.partaidamaisejahtera.com/1,40870

844. Partai Buruhhttp://www.partaiburuh.org/1,27710

930. Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI) http://www.partai-ppi.com/0,89170 1016. Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) http://www.pdp.or.id0,88230

1129. Partai Bintang Reformasi* (PBR) http://www.pbr.or.id/0,82880

1210. Partai Perjuangan Indonesia Baru (PIB) http://www.partai-pib.or.id 0,79820

1317. Partai Karya Perjuangan (PKP) http://www.partaikaryaperjuangan.org/0,77660

1411. Partai Kedaulatanhttp://www.partai-kedaulatan.org/0,70100

1512. Partai Persatuan Daerah (PPD) http://www.partaipersatuandaerah.com/0,67110

1620. Partai Karya Peduli Bangsa* (PKPB) http://www.pkpb.net 0,61850

1718. Partai Matahari Bangsa (PMB) http://www.pmb.or.id/ 0,50750

1870. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia* (PKPI) http://www.pkpi.org/0,40520

1960. Partai Barisan Nasional (Barnas) http://www.partaibarisannasional.org 0,34870

2040. Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) http://www.pprn.or.id/0,34440

2120. Partai Demokrasi Kebangsaan*(PDK) http://www.pdk.or.id/0,23070

2221. Partai Republika Nusantara (RepublikaN) http://www.republikan.or.id/0,19740

2343. Partai Sarikat Indonesia (PSI) http://www.partaisarikatindonesia.org/ 0,15560


2414. Partai Pemuda Indonesia (PPI) http://www.partaipemudaindonesia.or.id 0,10060

Sajak Kagum (Kepada Mardinsyah)


Dikota para penyair tak pernah mati

kubaca puisi tentang tanah negeri tuah melayu abadi dibumi.

Mahasiswa teriak nyalang suarakan revolusi.

Gurindam 58 tak pernah ditulis orang.

Tak kudengar orang menafsir makna :

Lancang kuning berjalan malam, m’nuju laut yang dalam

Pabila Nahkoda tidaklah Paham,

Alamat kapal akan tenggelam “

Sumpah Hang Tuah berubah makna.

Diatas ratusan titian lelaki baya itu melangkah.

Bara apinya menyala-nyala.

Aku Kagum

Dimimbar orang politik ia berdiri.

Suaranya keras timbul tenggelam.

Semangatnya tak Pudar,

Aku Kagum

Disela ringkih batuk selepas melawan angin separuh malam,

Kudengar suara paraunya : Rakyat harus menang ?

Tapi siapa rakyat dibalik bilik suara pilihan raya penuh muslihat.

Dinegeri para pnyair selalu dilahirkan.

Kutulis puisi dalam citaku

Kusimak kata-katanya :

“Politisi tak boleh terkalahkan oleh harapannya Sendiri.

Kalah Menang soal biasa,

Siapa kalah boleh ikut berkuasa “

Baru kali ini kutemukan politisi melukis puisi,

Menulis angka-angka dibalik rangkaian kata-kata

Aku Kagum

Dinegeri “tak melayu hilang dibumi”

Kucoba melukiskan asa.

Kumasuk kebalik otak kirinya.

Belajar tentang merumuskan cara menunda kemenangan.

“politisi tak pernah mati, revolusi dan demokrasi ganti berganti”.

Aku Kagum.

Kumasuk kebalik otak kanannya.

Kulihat berjuta puisi tentang polisi dan politisi.

Bukan basa basi.

(Pakanbaru, 2004)

(Dikutip dari buku “ Bulan Selesma , Sajak-sajak sepanjang jalan , N Syamsuddin CH Haesy)

Kamis, 25 Desember 2008

Kata Kalangan DPR : Jumhur Besar Kepala Ngerasa selevel Menteri

Jakarta RM, Konflik yang terjadi antara Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan tenaga kerja Indonesia ( BNP2TKI) dipicu oleh “Besar Kepalanya” Jumhur Hidayat karena menganggap dirinya selevel dengan menteri.
Hal itu disampaikan anggota Komisi IX DPR dari Fraksi Partai Golkar N Serta Ginting kepada Rakyat merdeka, kemarin
Dituding demikian, Jumhur mengaku memang harus “besar Kepala” karena yang dia hadapi itu para mafia TKI, Tapi dia tak terima jika “Besar Kepala” itu diartikan sebagai upaya menyamakan dirinya dengan seorang menteri. “Menghadapi mafia-mafia TKI ini, kepala saya masih kurang besar , he...he..hee” kata Jumhur Hidayat yang kepala BNP2TKI ini kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Konflik Depnakertrans dan BNP2TKI terungkap selasa lalu, saat digelar acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakosnas) Kelembagaan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (PPTKI) di Hotel Bumi Karsa Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Jumhur tidak datang dengan alasan tidak diundang. Tapi Menakertrans Erman Suparno membantahnya. “Operator kok tidak datang, saya tanya penanggung jawab dan kepala panitianya, katanya sudah diundang dan ditelepon. Padahal ini untuk mencari solusi terhadap peningkatan kualitas (pelayanan TKI)”, kata Erman soal tudingan Jumhur.
Kendati Jumhur “besar kepala” Ginting berharap BNP2TKI tetap perlu dipertahankan, namun sistem koordinasi yang perlu ditingkatkan agar tidak terjadi tumpang tindih. “Koorsadinasi antar menakertrans dan kepada BNP2TKI itu sangat kurang. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah agar mereka bisa kompak, “ Katanya.
Ginting mengaku sudah lama mendengar konflik antara Menteri Erman dan Jumhur. Jumhur berkali-kali mengatakan kerjanya sering dihalang-halangi Depnakertrans. “Dalam setiap kesempatan, saya selalu katakan pada mereka agar bisa berkoordinasi, lalu mereka semuanya berjanju untuk berkoordinasi,” Ujarnya.
Dia juga berharap konflik antar keduanya bisa cepat reda karena yang akan jadi korban adalah para TKI. “kami berharap, merka bisa selesaikan konflik itu secara kekeluargaan”, Katanya.
Dia menyebutkan, akibat konflik itu TKI sudah jadi korban, salah satunya dengan ditutupnya penempatan TKI di Korea. Dalam Kasus ini, Ginting meminta BNP2TKI bertanggung jawab.
Pendapat senada disampaikan wakil ketua komisi IX DPR Max Sopacua. Kata dia, BNP2TKI dibentuk berdasarkan Keppres. Dalam regulasinya BNP2TKI bertanggung jawab ke pemerintah dalam hal ini menakertrans. Max Sopacua miris telah terjadinya disharmonis antara erman dan Jumhur. Padahal BNP2TKI menjalankan fungsinya yang sudah ada MoU dengan pemerintah Indonesia terkait tenaga kerja. “Saya kira sebenarnya tidak ada Disharmonis antar keduanya”, kata wakil Sekjen DPP Partai Demokrat ini.
Upaya untuk mempertemukan antar keduannya, kata Max Sopacua, sudah dari dulu dilakukan DPR, namun tetap saja tidak akur. “Di Internal BNP2TKI perlu ada sinergi, Gimana mau melakukan perlindungan, melakukan pengawasan saja sulit”. Ujarnya.
Kepada konflik ini terjadi ? kepada rakyat merdeka, kemarin Jumhur merasa Menteri Erman berusaha mengerdilkan peran BNP2TKI. Padahal kata dia, kalau BNP2TKI kerdil, maka para mafia TKI bakal bersorak sorai.
Dia mencibir Depnakertrans yang tidak becus mengurus TKI. Kata Jumhur, kalau memang Depnakertrans sudah berhasil ngurus TKI, ya tidak perlu ada BNP2TKI karena buang-buang anggaran.
Jumhur berdalih “saat ini sedang menjalankan tugas dari Presiden agar perlindungan TKI bukan hanya harus bagus tapi harus sangat bagus. “saya mempertaruhkan integritas dan jabatan demi keyakinan membela para TKI yang selama ini di tereksploitasi” ujarnya.
Jumhur juga tak ambil pusing dengan rencana pemanggilan Menteri. “panggil aja, susah amat sih. Tapi, kalau perspektif menakertrans itu mengganggap BNP2TKI hanya seperti PJTKI, maka hal itu tidak akan pernah beres meskipun dilakukan seribu kali pertemuan,” tegasnya.
Dikuti dari Rakyat Merdeka, Jumat 26 Desember 2008

UNTUK PEMILU 2009 DR. DHARMAYUWATI PANE, M.A TAMPIL SEBAGAI CALON LEGISLATIF DPR RI NO URUT 1 DARI PARTAI SARIKAT INDONESIA (PSI) NO- 43 UNTUK DAPIL D


ibu dr.dharmayuwati pane,m.a akan berjuang dengan fokus membela hak-hak perempuan dan kaum marginal dalam segala bidang, terutama bidang pendidikan dan kesehatan.kaum perempuan belum menikmati pendidikan sebagaimana mestinya dan angka kematian para ibu saat melahirkan masih sangat tinggi..selain itu akan terus menyuarakan aspirasi rakyat yang sudah lama berteriak lantang, namun tidak didengar oleh pemda: 'stop banjir, mulai penghijauan bantaran kali , dirikan tempat tinggal rakyat yang terjangkau, berdayakan rakyat miskin kota,perbanyak ruang publik hijau, berikan sarana pejalan kaki, jalan-jalan untuk sepeda, taman bermain, gor, sarana budaya bagi anak-anak muda, rumah-rumah singgah bagi perempuan teraniaya, anak jalanan, panti jompo yang lebih manusiawi'..bang foke sebagai sesama alumni jerman, seharusnya bisa lebih mengerti akan kebutuhan primer rakyatnya di dki, terutama jakarta timur sebagai daerah terpadat dan termiskin no 2 sesudah jakarta utara.

° salah satu ketua dpp psi – jakarta

° pengurus persatuan alumni jerman (p.a.j) – jakarta

° anggota luar biasa forum komunikasi luar negeri (fokal) – jakarta

° pimpinan pestalozzi play group & kindergarten (bilingual) cibubur – jakarta

° pimpinan international studies centre (isc) – jakarta

° dosen/ penerjemah terdaftar di kedutaan republik federasi jerman (rfj)/ konsultan

pendidikan & training

www.partaisarikatindonesai.org
www.partaisarikatindonesia.blogspot.com
www.facebook.com
www.pestalozzi-indonesia.com

Office: 021-7199110

HP: 0816-952606

Berita dari DPAC PARTAI SARIKAT INDONESIA SUKASARI Bandung


kami selaku pengurus dpac kecamatan sukasari kota bandung memberitahukan kepada rekan-rekan partai sarikat indonesia bahwa di dpac kec. sukasari teleh terbentuk ranting kelurahan sukarasa kota bandung jawa barat dengan kepengurusan inti sebagai berikut:
ketua : komarudin
sekretaris : nunung fatimah
bendahara : eti
koordinator atau anak ranting di rw 4 kel. sukarasa yaitu tatang
demikian kami beritahukan..
kepada rekan-rekan seperjuangan, apabila memerlukan bantuan untuk berkampanye di kecamatan sukasari kami selaku dpac siap membantu.
semoga apa yang kita perjuangkan mendapat ridho-Nya. amiin.
hidup PSI hidup PSI hidup PSI

PKB Gus Dur Eksodus ke PSI

Senin, 08 Desember 2008

Profil Ketua Umum Partai Sarikat Indonesia, H. Rahardjo Tjakraningrat

Pria kelahiran Jombang 12 Februari 1943 ini boleh dikata adalah seorang pendatang baru yang patut diperhitung-kan dalam dunia perpolitikan nasional. Konstruksi pemikiran dan solusi yang dia tawarkan atas pemecahan permasalahan bangsa masih jernih. Bicaranya ceplas ceplos tanpa tedeng aling-aling tanpa tendensi dan interest pribadi. Terkadang kuping tidak kuat mendengar kekritisannya sebab dia menganalisa persoalan bangsa begitu tajam.
Dalam dua tahun terakhir dia adalah ketua umum sebuah partai Islam tertua di Indonesia, PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia). Dia mau bersedia menjadi ketua partai itu setelah menjalani istiqoroh selama beberapa hari berturut-turut.
Dia sebelumnya telah sukses dalam bisnis telekomunikasi, hingga pernah dipercaya sebagai orang swasta pertama menjabat komisaris PT Telekomunikasi Indonesia Tbk tahun 2000-2002. Bahkan, sebelumnya dia pernah dua kali menerima Penghargaan Adikarya Pembangunan Bidang Telekomunikasi dari Pemerintah RI tahun 1996 dan 1997.
Rahardjo, anak kelima dari enam bersaudara adalah keturunan ningrat, berdarah biru, dari seorang ayah asal Madura. Namun jika berbicara nadanya sudah sangat kental dengan logat Betawi. Ayah lima orang anak dan kakek dari beberapa orang cucu ini hidup beristrikan Sobah Murad wanita asal Jakarta bercampur sedikit darah Arab. Dalam membangun terminologi, paradigma dan sudut pandang tajam dan jelas.
Misalnya, ketidakinginannya masuk dalam struktur pemerintahan melainkan menjadi oposisi adalah agar bisa lebih independen mengkritisi kebijakan pemerintah. Sistem pemerintahan Indonesia yang presidensial belakangan ini menjadi banci. Sebab banyak tokoh partai yang tak mau melepaskan jabatan ketua dan sekjen partai masuk dalam kabinet. Dalam keadaan ini maka sudah tidak bisa lagi dibedakan antara pengontrol dan pemerintahan. Sebab tokoh partai yang harusnya mengawasi jalannya pemerintah telah menjadi anggota pemerintahan itu sendiri.
Seharusnya sesuai sistem pemerintahan presidensil maka siapapun calon presiden yang menang pemilu apakah itu menang tipis dengan perbedaan hanya satu atau dua suara, maka wajib dipercayakan kepadanya membentuk pemerintahan tanpa harus berkoalisi. Yang kalah dipersilakan menjadi oposisi dan jangan mengikutkan kadernya dalam kabinet, jadilah menjalankan fungsi kontrol terhadap pemerintahan agar check and balances.
Berbeda jika partai PSI tampil sebagai pemenang mutlak pemilu maka adalah tugas pemenang menyusun kabinet. “Tapi, belum tentu pengurus partai duduk di situ, termasuk saya, belum tentu. Mungkin, kita akan ambil kader-kader bangsa, putra-putra bangsa terbaik, kan banyak yang profesional,” kata Rahardjo. Dia akan tetap sebagai ketua umum sebab dari awal masuk partai dia tidak berkeinginan menjadi penjabat.
“Saya disuruh menjadi penjabat saya nggak suka. Apaan penjabat, bedanya cuma satu huruf dengan penjahat. Penjabat salah sedikit jadi penjahat, buat apa. Udah itu dikawal-kawal kemana-mana ah.… Saya lebih menghargai kebebasan dalam hidup saya. Makanya dari dulu saya tidak mau ditarik grupnya Tommy, ditarik grupnya Bimantara, ditarik grupnya Tutut, saya nggak pernah mau. Kenapa, karena saya nggak mau dibudakin,” terang Rahardjo dalam dialek Betawi yang kental.
Konsisten membina partai, menyiapkannya menjadi partai kader yang berprospek baik bermasa depan bagi anak muda, adalah sebab utama dia tidak mau menjadi caleg PSI. “Dari 258 caleg PSI hanya 13 yang merupakan pengurus partai,” jelasnya lagi.
Dia bertekad betul hanya mau menjalankan kiprah politik yang baik-baik, yang bermoral, walau itu dianggap orang banyak sesuatu yang masih tidak lazim di negeri ini.
Ingin Perubahan
Dia yang sesungguhnya adalah pengusaha yang sejak tahun 1967 sudah sukses menggeluti dagang usaha telekomunikasi, terjun ke politik melalui cara yang unik. Berawal dari omong-omong dengan Ketua Umum Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Taufik Cokroaminoto di tahun 1998. Taufik pernah memintanya untuk membantu PSII duduk sebagai salah seorang ketua. Permintaan membantu dia amini namun tawaran duduk sebagai pengurus teras partai dia tolak, sebab memang tidak menaruh minat ke politik.Sepenggal kepeduliannya terhadap politik yang pernah diperlihatkannya hanyalah tatkala arus reformasi menggelinding begitu kuat di tahun 1998. Dia membangun sembilan dapur umum menyiapkan logistik buat para mahasiswa di gedung DPR/MPR Senayan yang sedang berdemonstrasi. Kemudian berlanjut ke Pemilu 1999 dia banyak mengeluarkan uang dari kocek sendiri untuk menyiapkan kaos dan bendera PDI-P agar partai ini bisa memenangkan pemilu.
Yang terbersit di hatinya ikhlas membantu arus reformasi sederhana saja, ingin melihat perubahan baru terjadi di republik ini. Perubahan memang drastis terjadi tapi serba absurd. Gedung DPR/MPR yang pernah menjadi gelanggang bagi kekuatan reformasi berkumpul telah berubah menjadi arena politik dagang sapi. Sebelum menjadi anggota parlemen, beberapa kawannya di partai-partai politik sering digelari bersepatu miring sebab kehidupannya masih turun naik bis kota, masih sering minta dan meminjam duit, dan rumah ngontrak. Namun baru dua tahun saja menginjak Senayan mereka sudah mempunyai mobil mewah, rumah mentereng satu-dua buah, kekayaannya bahkan sudah melebihi pengusaha.Setelah Taufik Cokroaminoto meninggal dunia dengan wasiat agar pengurus PSII mencari Rahardjo Tjakraningrat apabila terjadi sesuatu hal terhadap partai. Maka, tahun 2002, tak kurang 10 pengurus PSII, menemui Rahardjo dan mendaulatnya menjadi ketua umum PSII. Dengan berbagai cara dia mengelak hingga berbulan-bulan. Namun setelah melalui istiqoroh selama tiga hari berturut-turut dan menjelang subuh di hari ketiga akhirnya dia diberi tanda dalam bayangannya muncul dua kalimat syahadat yang sekelabat melintas. Dari pengurus PSII dia akhinya mengetahui bahwa dua kalimat syahadat itu adalah lambang PSII.
Berdasarkan petunjuk itulah dia mau memulai kiprah politik memimpin PSII, membangun pondasi dan infrastruktur partai, melakukan konsolidasi dan kaderisasi partai, mencoba membangun koalisi baru dengan partai-partai kecil lain agar bisa lolos mengikuti Pemilu 2004. Bersama berbagai tokoh puncak partai-partai yang tak lolos electoral threshold pada Pemilu 1999, dia berhasil menggagas “Deklarasi Bogor” pada 13 Desember 2002. Salah satu isinya, memunculkan nama baru Partai Sarikat Indonesia (PSI) sebagai kendaraan politik menuju Pemilu 2004. Tak lama kemudian, 17 Desember 2002 pendirian PSI resmi dideklarasikan di Surabaya, Jawa Timur sebagai sebuah entitas partai politik baru berazaskan Pancasila.Berdarah Biru
Rahardjo Tjakraningrat lahir di Jombang, Jawa Timur 12 Februari 19043 sebagai anak kelima dari enam bersaudara. Ayahnya yang asal Madura adalah berdarah biru, keturunan Tjakraningrat IV yang selalu diuber-uber Belanda. Mereka selalu hidup berpindah-pindah untuk menghindari kejaran Belanda. Karena itu dari mereka enam bersaudara, empat laki-laki dan dua perempuan, tidak ada satupun yang sama tempat lahirnya. Ada yang lahir di Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Pasuruan, Jombang, dan Sumba. Adek bungsunya, Sumbawati, lahir di Sumba Nusa Tenggara Timur, mengikuti tempat pembuangan ayahnya yang akhirnya bisa tertangkap Belanda. Waktu pembuangan itu, Rahardjo masih kanak-kanak berusia tujuh tahun.
Memasuki usia remaja, Rahardjo tergolong bandel yang suka berkelahi. Sikap itu mengikuti kultur pendidikan dan pengajaran ayahnya yang bergaya Madura. Ia diajar harus berani. Jika pulang ke rumah dengan muka bengkak sehabis kalah berkelahi, ayahnya akan memaksa mengantarnya kembali menghadapi lawan mainnya untuk berkelahi ulang. “Jadi, kalau saya berkelahi sama yang lebih besar yang saya tahu saya pasti kalah, saya nggak berani bilang, saya ngumpat, kalau nggak saya disuruh berkelahi,” kenangnya.
Walau keturunan ningrat, ia melihat ayahnya sangat merakyat, sehingga tak suka menggunakan gelar bangsawannya. Gelar itu dianggap feodal. Ia sendiri baru berani menggunakan nama Tjakraningrat setelah ayahnya meninggal dunia.
Penelusuran kepastian sejarah darah biru itu baru berhasil dia ketemukan dua tiga tahun terakhir. Semasa hidup ayahnya tidak pernah menjelaskan soal asal usul darah birunya itu secara terbuka.Rahardjo memasuki pendidikan FH-UI tahun 1966 sekedar mengikuti keinginan ayahnya yang hakim militer. Bersama teman-temannya di UI dalam satu geng, Rahardjo yang suka berkelahi pernah aktif mengganyang CGMI. Namun, ketika geng-nya itu mulai ikut-ikutan menyerang pribadi Bung Karno, dia berhenti dan keluar. Rahardjo sadar, bisa menikmati pendidikan tinggi dan alam kemerdekaan adalah hasil perjuangan Bapak Bangsa Bung Karno.
Kemudian Rahardjo mulai aktif berdagang. Dagang apa saja, nyatut sana nyatut sini, termasuk memanfaatkan posisinya sebagai Ketua Grup Diskusi Mahasiswa UI Rayon Menteng yang banyak beranggotakan gadis-gadis cantik Menteng, Jakarta Pusat. Dengan perusahaan Berdikari yang banyak diisi kakak-kakak kelasnya Rahardjo banyak berbisnis DO (delivery order), misalnya barang pecah-belah, atau mesin tik. Masih lajang namun sudah banyak duit, ia pun jadi malas meneruskan kuliah.Sejak tahun 1969, ia resmi memasuki dunia bisnis dan fokus hanya di bidang telekomunikasi. Dalam setiap perusahaan yang didirikan bersama kawannya, Rahardjo selalu memilih menjadi pemilik saham terkecil, misalnya 30:70, atau 40:60. Namun, kendali perusahaan harus selalu dia pegang sebagai direktur utama agar mudah mencari proyek. Sedangkan urusan keuangan dipercayakan sepenuhnya kepada partner. Dia selalu fokus di telekomunikasi. Pernah suatu ketika dia melakukan diversifikasi usaha di Belitung Tourism, Bangka Belitung, namun hasil yang dia petik adalah uang berhamburan tak karuan modal hilang tak kembali. Pengalaman itu mengajarnya untuk tak beranjak dari telekomunikasi.Organisasi telekomunikasi seperti Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnatel) dan Masyarakat Telematika (Mastel) berkali-kali dia pimpin. Kiprahnya yang demikian panjang hingga kawakan di telekomunikasi berhasil menarik perhatian pemerintah. Dua kali ia menerima penghargaan dan dipercaya menjadi Komisari PT Telkom.
Kedaulatan Rakyat
Rahardjo sangat berharap Pemilu 2004 berhasil mengembalikan kedaulatan kepada rakyat, sesuai platform PSI. Sebab, menurutnya, PSI melihat rakyat saat ini sudah tidak berdaulat. Semua ditentukan partai tanpa rakyat bisa bicara apa-apa. Semua ditentukan oleh penguasa. MPR pun sudah dikebiri melalui amandemen padahal sebelumnya rakyat masih belum berdaulat melalui MPR. Sekarang kedaulatan rakyat itu kembali dikebiri melalui undang-undang yang dibuat DPR.“Mestinya kedaulatan itu dikembalikan ke rakyat. Caranya gimana, bisa macam-macam. Menurut saya pemilu legislatif nggak mesti ada. Yang ada adalah pemilu memilih anggota MPR langsung, tidak melalui partai. Bagaimana mekanismenya, bisa dibikin. Duduklah di MPR 1.000 orang yang dipilih rakyat langsung. Dialah nanti yang akan melakukan pemilihan anggota DPR, eksekutif, dan yudikatif.”Sasaran kedua, masih sesuai platform PSI, bangsa Indonesia mesti kembali ke kodrat sebagai bangsa agraria. Bangsa Indonesia telah diberikan Tuhan laut yang kaya, tanah yang subur, sumber alam yang melimpah, iklim yang bagus, sebaiknya harus membangun industri agro sebab 65 persen rakyat hidup di situ. Ia sangat berharap Indonesia bisa melalukan terobosan-terobosan ekonomi yang revolusioner. Dengan menjalankan industri agro pembukaan lapangan kerja bisa dilakukan, kemiskinan bisa diatasi, industri substitusi impor bisa tumbuh dengan sendirinya. Akumulasinya adalah untuk meningkatkan daya beli rakyat.
Jadi, konsep-konsep itulah yang didorong kepada Siswono yang kalau berkuasa nanti harus fokus kepada pembangunan agroindustri. Itu yang kita minta kepada dia karena di situlah rakyat miskin kita 65 persen berada.Ia melihat untuk melakukan hentakan dan terobosan-terobosan ekonomi yang revolusioner itu perlu ada political will, political decision, dan political action pemerintah. “Ketiganya mesti ada, baru bisa jalan. Makanya pemerintah kalau nggak dipimpin oleh seorang entrepreneur nggak akan jalan,” kata Rahardjo yang merasa sangat heran Indonesia negara kepulauan tapi tiap tahun harus mengimpor garam satu juta ton/tahun. Indonesia penghasil buah yang baik namun di desa-desa dengan mudah bisa ditemukan peer dan apel impor.
Sesuai platform sebagai partai kader, apapun Pemilu 2004, berhasil atau tidak meloloskan PSI dari batasan electoral threshold, Rahardjo sudah menyiapkan konsep membangun partai lima tahun ke depan. Pendidikan kader adalah kunci keberhasilan PSI ke depan. Rahardjo sudah akan menciptakan sistem manajemen kepartaian yang baku yang tidak tergantung kepada figur pemimpin.Siapa pun yang memimpin PSI jika sistemnya sudah jalan tidak akan menggoyahkan perahu partai. Sama seperti partai LDP di Jepang yang terkadang setiap tiga bulan sekali bisa berganti ketua umum karena berbagai tuduhan. Tapi partai LDP tetap jalan smooth. “Ini, harus kita ciptakan. Karena itu perlu kaderisasi agar kader PSI bisa militan yang kalau otaknya dipecah isinya PSI, kasarnya begitu.”Selain menciptakan manajemen kepartaian yang baku, ia juga sudah menyiapkan konsep sistem ekonomi partai melalui koperasi sehingga setiap daerah DPC bisa membiayai dirinya sendiri tanpa droping-droping-an dari pusat. “Insya Allah, PSI ini akan menjadi partai yang modern. Kita nggak bisa mengandalkan iuran anggota partai, omong kosong itu. Dalam 10 tahun ke depan iuran nggak bisa diharapkan selama rakyat masih miskin dan belum cerdas.”
Walau umur sudah melebihi 61 tahun namun sepintas raut muka Rahardjo tampak jauh lebih muda dari usia yang sesungguhnya. Laksana baru memasuki usia kepala lima saja. Dia ternyata punya resep tersendiri untuk hal itu. Yaitu, selalu santai dan tidak pernah ngoyo dalam menghadapi setiap masalah. Apapun yang dikerjakan harus dengan ikhlas. Membantu teman pun harus ikhlas jangan mengharapkan sesuatu balikannya. Termasuk menghadapi masa-masa perhitungan suara hasil pemilu legislatif, ia tampak tidak ngoyo atau berusaha mempengaruhi hasil perhitungan suara yang menggunakan teknologi informasi. Ia menyebutkan, setelah berusaha maksimum PSI mau nomor berapa perolehan suara atau dapat kursi berapa di parlemen, itu terserah saja sudah tidak bisa diapa-apain melainkan sudah urusan Tuhan.Ia kini hidup bahagia bersama istri dan lima orang anak, terdiri empat perempuan satu laki-laki. Tiga anak pertama sudah menikah dan memberinya sejumlah cucu. Sebelum resmi terjun ke dunia politik adalah istrinya yang pertama kali dia mintakan pendapat tentang kemungkinan kiprah barunya itu. Dia menjelaskan segala konsekuensi pilihan itu, seperti pengorbanan akan uang, tenaga, dan waktu yang pasti akan tercurah ke partai.
“Kalau memang sudah harus begitu, kenapa nggak, ambil saja,” sikap istrinya mendukung Rahardjo. Dukungan istri itu semakin nyata. Sang Isteri ikut mendampingi Rahardjo dua bulan penuh berkunjung ke daerah-daerah bahkan ikut berkampanye.
Ia membiasakan diri, apapun yang dikerjakan, harus lebih dahulu memperoleh dukungan dari keluarga terutama istri. Sebab jika tidak direstui, misalnya, akan selalu muncul rasa tidak enak di hati.Rahardjo menyebut adalah biasa dalam rumah tangga muncul ribut-ribut. Jika itu timbul maka ia pasti akan berusaha menyelesaikan masalah itu sesegera mungkin tanpa menunggu esok pagi. Jika hingga malam, atau subuh masalah itu belum terselesaikan, maka ia lebih memilih diam di rumah tidak berangkat ke kantor. “Kalau sudah selesai, saya ke kantor diantar ke depan pintu, nah, itu baru enak. Kalau keluar kita nggak ngomong sama istri waktu ngerasain di kantor nggak enak, saya itu gitu. Jadi saya harus selesaikan dulu. Selesai udah, damai kita, dada-dadaan deh, ke kantor, baru kita enak,” ujarnya.Nama: H. Rahardjo Tjakraningrat
Lahir: Jombang, 12 Februari 1943
Agama: Islam
Istri: Sobah Murad
Anak: 5 (Lima) orang



Pendidikan: Tahun 1966 Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI), Jakarta
Pekerjaan:2000-2002: Komisaris PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk
1996-2000: Komisaris PT Multi Eka Karma
1995-2000: Direktur Utama PT Telesarana Adi Prima
1992-1995: Direktur Keuangan PT BELTDC
1986-1991: Direktur Komersil PT Rajasa Hazanah Perkasa
1979-1985: Direktur Utama PT Prasetia
1976-1978: Direktur Utama PT Erexta Commercial Development
1970-1975: Direktur Operasi PT NASIO
1967-1969: General Manager PT Lambreta Service
Organisasi:2002-sekarang: Ketua Umum Partai Sarikat Indonesia (PSI)
2002: Ketua Umum Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
2001-sekarang: Ketua Umum Apnatel (Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi)
2000-2002: Presidium Mastel (Masyarakat Telematika)
1998-2001: Ketua Umum Apnatel
1997-2000: Ketua Bidang Organisasi Mastel
1995-1998: Ketua Umum Apnatel
1994-1997: Ketua Bidang Organisasi Mastel
1993-1995: Pjs Ketua Umum Apnatel Pusat
1992-1995: Ketua Apnatel Pusat Bidang Organisasi
1989-1992: Ketua Apnatel Pusat Bidang Organisasi
1986-1989: Ketua Apnatel Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Penghargaan:
1. Tahun 1999: Penghargaan Top Eksekutif dan Pengusaha Indonesia dari Pusat Profil dan Bisnis Indonesia
2. Tahun 1998: Penghargaan sebagai Eksekutif Indonesia Berprestasi dari Nirwana Indonesia.
3. Tahun 1997: Penghargaan Adikarya Pembangunan Bidang Telekomunikasi dari Pemerintah Republik Indonesia atas nama pribadi Rahardjo Tjakraningrat.
4. Tahun 1996: Penghargaan Adikarya Pembangunan Bidang Telekomunikasi dari Pemerintah Republik Indonesia atas nama Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnatel).

disadur dari http://mentari-computer.blogspot.com/2008/10/partai-sarikat-indonesia-43.html

Profil Wakil Ketua Umum Partai Sarikat Indonesia, Drs.H. Mardinsyah

Mungkin tidak banyak yang mengenal tampang Wakil ketua umum Partai Sarikat Indonesia, Drs. H. Mardinsyah. Tetapi tentu banyak yang sudah sering mendengar nama tokoh ini, baik melalui media surat kabar atau media lainnya.

Mardinsyah merupakan sosok yang tidak kenal lelah berkecimpung di dunia kepartaian. Sejak mulai tahun 1969, sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Parmusi Sumatera Barat, sampai menjabat Ketua Umum Partai Sarikat Indonesia. Telah banyak lika liku politik yang dijalaninya.

Sebagian besar aksi politiknya lebih banyak berada dibelakang layar. Sebagai seorang konseptor dan sebagai jantung bagi organisasi yang dinahkodainya.

Sidang umum 1988, merupakan salah satu aksi politiknya yang tidak banyak diketahui oleh orang banyak. Pada saat itu, dimana kekuasaan orde baru sangat kuat mencengkram bumi nusantara ini, dengan posisinya sebagai Sekretaris Jenderal hasil Muktamar pertama Partai Persatuan Pembangunan, Mardinsyah menggulirkan pencalonan HJ Naro sebagai calon Wakil Presiden Indonesia. Tindakan ini, tentu saja mengundang reaksi yang luar biasa dari Penguasa orde baru. Karena selama pemerintahaan orde baru, tidak ada calon wakil presiden yang berasal dari partai politik, semuanya berasal dari golongan karya yang tidak mau disebut sebagai partai politik.

Tindakan yang dilakukan Partai Persatuan Pembangunan saat itu baru berbuah hasil pada, tahun 1998, dengan lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan.

Tindakan ini tentu saja mengundang resiko yang sudah diketahui sebelumnya. Tetapi, Mardinsyah yakin bahwa tindakan yang diambilnya tersebut merupakan sesuai keputusan yang harus diambil. Karena, kalau tidak ada yang mencoba menentang arus kekuasaan yang sudah melebih batas kewajaran, tentu saja tidak akan terjadi perubahan. Walaupun harus menanggung resiko politik yang cukup luar biasa.

Selain ancaman yang diterima, tentu saja lengsernya HJ Naro dari kepemimpinan di Partai Persatuan Pembangunan juga memberikan dampak bagi karier politik Mardin, begitu nama panggilan akrabnya. Sikapnya yang konsisten sangat disanjung oleh kawan maupun lawan politiknya. Pada saat HJ Naro turun, Mardinsyah mendapat tawaran untuk ikut serta menghujat sang mantan ketua umum, dengan bargaining posisi tertentu akan diberikan. Tetapi, tawaran tersebut ditolak mentah-mentah. Prinsip inilah yang mewarnai perjalanan karier politiknya selanjutnya.

Pada saat tahun 1999, HJ. Naro dan Mardinsyah beserta seluruh gerbong yang ada diseluruh tanah air membentuk Partai Persatuan, dan mengikuti Pemilu 1999. Partai Persatuan yang berlambang bintang ini, memperoleh 1 kursi di DPR RI dan .... kursi DPRD diseluruh Indonesia. Banyak yang mengira usaha tokoh ini untuk mendirikan mesin politik baru merupakan mission Imposible yang tidak akan dapat tercapai, karena batas waktu yang singkat dan keterbatasan sumber daya yang ada. Tetapi akhirnya dapat berhasil mencapai suatu titik keberhasilan dalam melanjutkan survival politik.

Pada Pemilu 2004, Partai persatuan bergabung dengan dengan 7 partai lainnya dalam Partai Sarikat Indonesia, Mardin yang saat itu menjabat sebagai Pjs Ketua Umum Partai Persatuan menggantikan HJ Naro yang berpulang kerahmatullah, diberikan kepercayaan untuk menjadi salah satu ketua di Partai Sarikat Indonesia yang dipimpin oleh Rahadjo Tjakraningrat. Kebijaksanaannya dalam bersikap dan pengambilan keputusan mengukir suatu prestasi yang luar biasa. Sebagai salah satu Ketua bidang keorganisasiaan, Mardinsyah harus melakukan langkah-langkah untuk menyatukan seluruh DPD, DPC dan PAC seluruh indonesia yang memiliki potensi konflik yang tinggi, karena berasal dari beberapa Partai yang harus digabung menjadi satu. Kepemimpinan dari 7 partai harus digabung menjadi satu kepengurusan. Sikap bijaksana, dan adil dalam menerapkan peraturan yang ada merupakan landasan kuat yang menjadikan setiap keputusan yang dilakukan bisa didukung oleh semua pihak.

Kegigihan politisi ini kembali dibuktikan, pada proses verifikasi Partai PSI. Sebagai hasil dari kongres Partai Sarikat Indonesia di Jakarta pada 14 Agustus 2007, memutuskan bahwa dalam rangka menjembatani, perjuangan para kader Partai Sarikat Indonesia yang tidak lolos Elektroral threshold, maka dibentuklah partai baru dengan nama Partai PSI, yaitu Partai Persatuan Sarikat Indonesia, yang dipimpinan oleh Raharjo Tjakraningkrat sebagai Ketua Umumnya. Sementara kepemimpinan didalam Partai Sarikat Indonesia (PSI) dipegang oleh Mardinsyah, dengan beberapa kader muda PSI. Hal ini dilakukan untuk memenuhi ketentuan undang-undang yang menetapkan bahwa tidak bolehnya jabatan rangkap didalam partai politik. Keinginan untuk tetap menjaga dan menghidupkan Partai Sarikat Indonesia ini, merupakan keputusan yang didasarkan kepada intuisi politik Mardinsyah yang pada akhirnya sangat bermanfaat dan tepat bagi kelangsungan hidup partai ini.

Partai PSI, sebagai partai baru harus mengikuti proses verifikasi yang dilakukan oleh KPU. Walaupun tidak menduduki jabatan didalam partai PSI yang diverifikasi oleh KPU, dengan jiwa besar dan semangat untuk menghantarkan para kader muda PSI ke gerbang pemilu, Mardinsyah tetap memberikan kontribusi yang besar dalam usaha verifikasi tersebut. Verifikasi ditingkat pusat dan berdasarkan data-data kepengurusan telah berhasil dilalui. Tetapi akhirnya perjalanan Partai Persatuan Sarikat Indonesia, tersandung di verifikasi faktual.

Hal ini tidak disikapi dengan tangis air mata ataupun emosi yang hanya membuang-buang energi. Mardinsyah kembali berkutat dengan PSI, bersama dengan beberapa kader muda untuk memperjuangkan kehidupan Partai Sarikat Indonesia. Nazir Muchamad, yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di PSI yang dipimpin Mardinsyah menjadi patner yang bisa dihandalkan dalam perjuangan di Makamah Konstitusi, KPU dan PTUN. Dan tentu saja dibantu oleh kader-kader muda Partai sarikat Indonesia seperti Hayat Zainuni, yang menjabat Bendahara, Syafruddin Djosan Ketua Balitbang, H. TB. Priyadi Yusron Ketua DPD Banten Partai Sarikat Indonesia dan Nana Sutarna Hardjadinata B.Sc Ketua DPD Jawa barat. Tokoh-tokoh inilah yang memiliki peranan penting keberhasilan Partai Sarikat Indonesia untuk ikut serta dalam Pemilu 2009. Dibawah komando Mardinsyah, semua tokoh muda Partai Sarikat Indonesia ini berjuang siang dan malam untuk keberhasilan. Keputusan Makamah Konstitusi yang membatalkan UU No. 10 Tahun 2008 yang memuat pasal kompromistis 316 huruf "d", yang akhirnya memutuskan Partai Sarikat Indonesia dapat menjadi peserta pemilu. Tetapi perjuangan tidak berhenti sampai disana. Keputusan MK yang tidak berlaku surut dan baru sah pada saat pembacaan keputusan, hampirnya memupuskan harapan Partai Sarikat Indonesia untuk mengikuti pemilu 2009. Walaupun pleno MK dilakukan satu hari sebelum pencabutan nomor urut partai peserta pemilu, tetapi baru dibacakan satu hari setelah saat i penetapan nomor urut partai peserta Pemilu 2009 dan padahal keputusan MK tidak berlaku surut. Sekali lagi permainan ala orde baru dipertontonkan dan Partai Sarikat Indonesia menjadi korbannya. Tetapi berkat kegigihan berjuang para kader muda dibawah kepemimpinan Mardinsyah, melalui negosiasi dengan Mensekneg dan KPU, akhirnya di tempuh jalur PTUN sebagai jalur yang dapat memutuskan bahwa Partai Sarikat Indonesia dapat menjadi peserta pemilu 2009.

Setelah Partai Sarikat Indonesia lolos menjadi peserta pemilu dan berhasil memasukan Calon Legislatif dalam jumlah yang signifikan, Mardinsyah kembali memberikan kesempatan kepada Rahardjo Tjakraningrat untuk kembali menjadi Ketua Umum Partai Sarikat Indonesia, sementara dirinya menduduki Jabatan sebagai Wakil Ketua Umum Partai Sarikat Indonesia, melalui rapat pleno DPP Partai Sarikat Indonesia yang sekaligus menyempurnakan susunan DPP Partai Sarikat Indonesia yang berjumlah 33 orang. Hal ini menampakkan sosok pemimpin yang tidak haus kekuasaan, tetapi seorang pemimpin yang mendahulukan kepentingan Partai diatas kepentingan diri sendiri. Tentu saja hal ini bukanlah didapat begitu saja, melainkan sudah merupakan jiwa dan naluri hidup Mardinsyah sebagai seorang yang pernah menjadi wakil rakyat selama 21 tahun. Mardinsyah sudah terbiasa untuk mendahulukan kepentingan orang banyak dibandingkan kepentingan diri sendiri.

Pada pemilu 2009 ini, Mardinsyah tidak maju sebagai calon anggota Legislatif. Mardinsyah hanya memegang peranan untuk menghantarkan para kader Partai Sarikat Indonesia menuju pemilu 2009. Semoga perjuangan yang telah dilakukan oleh Mardinsyah dapat menghasilkan buah yang baik, yaitu duduknya para kader Partai Sarikat Indonesia menjadi anggota Legislatif, baik ditingkat DPRD kabupaten/kota, DPRD propinsi maupun DPR tingkat Nasional.

Dengan bercermin dari sikap Mardinsyah yang peduli rakyat tersebut, dapat dipastikan bahwa Partai Sarikat Indonesia merupakan Partai yang berjuang untuk kepentingan orang banyak, dan dijamin bahwa seluruh kader Partai Sarikat Indonesia akan berjuang untuk memenangkan kepentingan seluruh masyarakat banyak. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa perjuangan sebuah partai politik tidak terlepas dari sosok pemimpin dan pengurus yang berada dibalik gerak politik Partai Politik tersebut.

Tentu perjuangan untuk seluruh rakyat Indonesia, akan di Ridhoi oleh ALLAH, sehingga perjuangan Partai Sarikat Indonesia akan membuahkan hasil yang baik bagi Partai Sarikat Indonesia, yang pada akhirnya akan bermanfaat bagi Bangsa dan Negara.



Daftar Riwayat Hidup

Nama Lengkap : Drs. H. Mardinsyah
Tempat tanggal lahir : Pariaman, 3 Juli 1940
Alamat tempat tinggal : Komplek DPR RI A-58 Joglo Jakarta Barat
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status perkawinan : Kawin
Nama Istri : Dra. Hj. Mardety. Msi
Anak :
1. Ir. Ranoldi Mardinsyah
2. Defriansyah.SE
3. Ir. Yudiansyah
4. Ir. Ardiansyah
Pekerjaan : Pensiunan Anggota DPR/MPR

Riwayat Pendidikan : - SR/SD tamat tahun 1954, di Medan
- SMP/B tamat tahun 1957, di Padang
- SMA/B tamat tahun 1960, di Padang
- Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada, Tamat tahun 1967 di Yogyakarta.

Riwayat dalam Organisasi :
- Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tahun 1960/1967.
- Ketua Komisariat HMI fakultas Biologi UGM tahun 1985/1966
- Ketua Konsulat Gasbiindo Sumatera Barat tahun 1969/1974
- Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Parmusi Sumatera Barat tahun 1969/1970.
- Sekretaris Pimpinan Wilayah Parmusi (Muslimin Indonesia) Sumatera Barat tahun 1981/1987.
- Ketua Koordinator/ Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan Sumatera Barat tahun 1973/1984.
- Wakil Ketua DPD Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) Sumatera Barat tahun 1974/1982.
- Ketua Pimpinan Muslimin Indonesia tahun 1987/ Sekarang.
- Sekretaris Jenderal DPP Partai Persatuan Pembangunan 1984/1989.
- Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan tahun 1989/1993.
- Sekretaris Jenderal DPP Partai Persatuan tahun 1999 – 2001.
- Pj. Ketua Umum DPP Partai Persatuan tahun 2001-2002
- Ketua DPP Partai Sarikat Indonesia, tahun 2002-2008.
- Ketua Umum Partai Sarikat Indonesia, Agustus 2007- November 2008.
- Wakil Ketua Umum Partai Sarikat Indonesia, November 2008 –s/d sekarang

Riwayat Pekerjaan :
- Tenaga pengajar pada FIPIA Universitas Andalas Padang tahun 1968/1981.
- Wakil Ketua DPRD Propinsi Sumatera Barat Masa Bhakti 1971/1977 dan 1977/1982.
- Anggota DPR/MPR-RI masa bhakti 1982/1987 dan 1987/1992.

Lain-lain :
- Ketua Baringin Mudo (Keluarga Pemuda pelajar dan Mahasiswa Minang) tahun 1965/1967 di Yogyakarta.
- Anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) di yogyakarta.
- Anggota Dewan Penasehat DPD KNPI Sumatera Barat tahun 1982.
- Anggota Komisi kerukunan Antar Umat Beragama kerja sama Ulama Umara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat tahun 1980/1982.
- Penasehat Lemkari Komda Sumatera Barat tahun 1980/1982.
- Penasehat LEMKARI Komda Sumatera Barat tahun 1980-1982.
- Calon Gubernur/KDH, Sumatera Barat tahun 1982.
- Anggota Kahmi kodya padang, tahun 1968/1982.
- Wakil Ketua BK3AM (Badan Koordinasi kebudayaan Kesenian Alam MinangKabau) Tahun 1984/1987 di Jakarta.
- Wakil ketua merangkap Anggota Dewan Pertimbangan Lembaga Pemilihan Umum tahun 1984/1994.
- Anggota Panitia Pemilihan Indonesia tahun 1990/1993.
- Anggota Komisi Pemilihan Umum 1999/2000.

Jumat, 05 Desember 2008

partai sarikat indonesia nomor 43 there too

PSI 43 here to

partai sarikat indonesia nomor 43 here

partai sarikat indonesia nomor 43 there

partai sarikat indonesia nomor 43 everywhere

Mobil PSI no 43

partai sarikat indonesia nomor 43 televisi

partai sarikat indonesia dimajalah vogue

partai sarikat indonesia nomor 43

PSI 43

PSI EveryWhere-2

PSI EveryWhere

Rabu, 03 Desember 2008

PSI Belum Saatnya memunculkan Capres dan Cawapres

Jakarta, Partai Sarikat Indonesia (PSI) tidak latah seperti partai lainnya untuk mendukung salah satu capres yang akan dimunculkan pada pemilu 2009 nanti. Permasalahannya PSI lebih konsen kedalam untuk membenahi partainya agar PSI bisa mencapai target 2,5 % itu yang lebih diutamakan.

Adapun sikap PSI tentang calon presiden tidak mau gegabah, tentunya kita harus mencari orang yang kuat didalam mengatasi stabilitas pertumbuhan ekonomi yang global serta harus bertindak hati-hati didalam menentukan figur pemimpin bangsa, walaupun PSI sendiri sering didatangi beberapa capres (calon presiden) untuk meminta dukungannya, akan tetapi kita hanya bersikap menghormati saja, memantau keadaan serta sedang kita menjajaki, belum ada suatu keputusan apapun, walaupun didalam amanat UU dikatakan, bahwa partai politik sudah harus mencalonkan capres-cawapresnya sebelum pemilu, akan tetapi PSI masih menunggu keputusan Rapimnas untuk membicarakan hal itu, yang Insya ALLAH akan digelar Januari 2009 di Jakarta. Demikian dikatakan Wakil Ketua Umum PSI Mardinsyah, di DPP jakarta belum lama ini.

Dikatakan oleh Mardinsyah, memang menurut UU, pencalonan presiden itu dilakukan sebelum pelaksanaan pemilu, itu sudah ada Capres dan Cawapresnya, namun ini merupakan suatu dilema bagi partai politik kecil dan baru yang mengharuskan memiliki kursi sebanyak 20 % di DPR pusat, untuk bisa mencalonkan capres dan cawapresnya.

Menurutnya, ini merupakan pendzoliman, “ Saya rasa nanti kalau ini sampai diterapkan paling-paling hanya mungkin ada dua pasangan capres dan cawapres, dan kemungkinan ini bisa terjadi suatu hal yang tidak diinginkan. Disamping itu, PSI bersama partai kecil lainnya yang berjumlah 24 parpol siap akan mengajukan uji materi ke Makamah konstitusi (MK) terutama tentang ET dan PT (parlementary Threshold) yang sangat merugikan bagi perkembangan demokrasi di Indonesia ini. Kalau tidak sampai mencapai angka 2,5 % di parlemen, maka suara parpol tersebut dinyatakan hangus, yang secara otomatis kursi yang diperolehnya hilang begitu saja, inikan tidak adil namanya “ paparnya.

Dan ketika ditanya Kontras, bagaimana dengan tebar pesona yang dilakukan beberapa capres dibeberapa media elektronik, dengan tegas Mardinsyah mengatakan, tidak tepat bila ada tokoh politik dan calon presiden melakukan politik tebar pesona ditengah krisis masyarakat sedang menghadapi ancaman krisis keuangan global, Mardinsyah mengajak tokoh politik untuk menahan diri dari manuver dan godaan tebar pesona pada situasi seperti saat ini.

Menurutnya, tidak sepantasnya para elit bangsa bersaing melalui tebar pesona ditengah rakyat yang terancam dampak krisis keuangan “yang diperlukan kini adalah energi positif dari seluruh komponen bangsa untuk mencari solusi krisis bangsa”, katanya.

Sebaliknya, kata Mardinsyah, para Capres dan tokoh parpol perlu duduk satu meja guna untuk menyelamatkan bangsa dan mencari solusi dampak krisis global.

(dikutip dari tabloid mingguan KONTRAS tahun V 3 – 9 Desember 2008 (hal 3)